Warisan Kekayaan dan Kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan: Seabad Persyarikatan Muhammadiyah

Warisan Kekayaan dan Kepemimpinan KH. Ahmad Dahlan: Seabad Persyarikatan Muhammadiyah
KH. Ahmad Dahlan

Oleh :

Adhan Chaniago - Sekretaris PDPM Sijunjung

Lebih dari seabad telah berlalu sejak KH. Ahmad Dahlan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada tahun 1912, berbekal pengalaman yang sangat berharga dari masa mudanya. Kini, pada tahun 2025, kita dapat melihat dan merasakan besarnya kehadiran aset Muhammadiyah, yang diperkirakan mencapai nilai 400 triliun rupiah.

Muhammadiyah mengelola tanah seluas 21 juta meter persegi, sebuah wilayah yang 28 kali lebih besar dari negara Singapura. Di atas lahan ini, terdapat setidaknya 19.951 sekolah, 13.000 masjid dan mushola, 765 bank perkreditan rakyat syariah, 635 panti asuhan, 457 rumah sakit dan klinik, 437 baitul mal, 176 universitas, dan 102 pondok pesantren.

Lebih dari 25 juta anggota telah mengambil manfaat dari berbagai kegiatan amal yang dilakukan oleh organisasi ini. Yang menarik, semua aset ini dipegang atas nama organisasi—milik umat, oleh umat, dan untuk umat—menunjukkan bahwa KH. Ahmad Dahlan telah berhasil menanamkan keikhlasan, niat yang tulus, dan dedikasi yang tinggi kepada para kader Muhammadiyah yang terus menerus berganti melalui generasi.

KH. Ahmad Dahlan telah merumuskan dan mengembangkan konsep-konsep pembaharuan dalam praktik keagamaan, serta memadukan ilmu pengetahuan umum dengan kerangka modernisasi dan perluasan jaringan sosial. Konsep-konsep ini menunjukkan bahwa ada lima nilai penting yang harus dimiliki pemuda di era disrupsi seperti saat ini: moralitas, berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi.

Pengalaman berorganisasi, pendidikan, dan keinginan untuk terus belajar tentang ilmu agama dan pengetahuan umum adalah penting untuk peningkatan kualitas teologis dan moral manusia, serta sebagai bekal dalam menjalankan muamalah duniawiyah di era disrupsi ini.

Kita harus mengembangkan kompetensi apa pun yang kita miliki, tanpa perlu memaksakan diri menjadi ahli di bidang yang tidak sesuai dengan keahlian kita. Kita juga dapat bekerja sama secara produktif dan bertanggung jawab dengan berbagai orang yang kita temui dalam perjalanan hidup kita, tidak terbatas pada mereka yang memiliki latar belakang akademis manajemen bisnis atau IT, menunjukkan bahwa kolaborasi dan adaptabilitas adalah kunci sukses dalam era modern.