Meneropong Era Disrupsi: Antara Kreativitas dan Kenyataan

Meneropong Era Disrupsi: Antara Kreativitas dan Kenyataan

Disrupsi umumnya diartikan sebagai inovasi yang revolusioner, yang menggusur sistem konvensional dengan pendekatan yang lebih modern. Fenomena ini memungkinkan penggantian aktor-aktor lama dengan entitas baru yang lebih adaptif terhadap teknologi digital, menghasilkan solusi yang tidak hanya baru tapi juga lebih efektif dan efisien. Menurut Clayton Christensen, seorang akademisi asal Amerika, disrupsi ini tidak hanya merombak pasar dan industri lama, tetapi juga menciptakan terobosan yang memadukan destruksi dan kreasi secara simultan.

Inovasi sering kali membawa dampak yang bersifat destruktif namun kreatif. Seperti yang dinyatakan oleh Rhenald Kasali, perubahan ini bisa menyebabkan kehilangan, kemunduran, bahkan kepunahan dalam beberapa aspek, sementara di sisi lain, menciptakan peluang baru. Hal ini dapat dianggap sebagai siklus alami, dimana meskipun terdapat pekerjaan yang hilang, akan muncul kesempatan baru yang memerlukan inovasi dan kewirausahaan.

Prof. Ravik, staf khusus Kementerian Koordinator bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, menekankan bahwa era disrupsi adalah sebuah keharusan yang membawa gelombang besar inovasi dan transformasi dari sistem tradisional ke model yang lebih terkini.

Dalam kurun waktu kurang dari satu dekade, cara kita berkomunikasi telah berubah drastis, dari yang tadinya tidak bisa melihat wajah hingga bisa berinteraksi secara virtual menggunakan berbagai aplikasi internet. Di sektor industri, pergeseran dari model bisnis yang mempekerjakan banyak orang menjadi penggunaan teknologi yang lebih efisien seperti uang elektronik di gerbang tol, telah mengubah banyak aspek pekerjaan.

Disrupsi ini berdampak signifikan terhadap dinamika pemberdayaan sumber daya manusia, menyebabkan pengangguran, kriminalitas, kemiskinan, dan kelaparan sebagai dampak negatif yang tidak terhindarkan. Perubahan sosial, ekonomi, dan budaya yang diakibatkan oleh disrupsi ini bisa berujung pada hasil yang positif atau negatif, tergantung pada bagaimana kita, khususnya generasi muda, mampu beradaptasi dan merespons tantangan yang ada.

Adhan Chaniago
Sekretaris PDPM Kabupaten Sijunjung